Mohon Dibagikan Bagi Yang Muslim.....!!! Jangan Salah Inilah Kesilapan Duduk Pada Dua Sujud/Duduk Iftirasy Yang Ramai Ambillah Gampang. Mohon Kongsikan Cara Yang Benar Ini...
Duduk pada 2 sujud yaitu satu di antara rukun fi‘li (perbuatan) yang pendek. Duduk pada dua sujud yakni mesti dan tidak sah sembahyang apabila ditinggalkan dengan bermaksud... (Al-Majmuk : 3/367)

Kewajiban thuma’ninah waktu ruku‘, sujud, i‘tidal (bangkit daripada ruku‘) dan duduk pada 2 sujud, berdasarkan pada hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang punya maksud :
" Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : " Bila engkau berdiri untuk menunaikan sembahyang baiknya bertakbir, lantas bacalah yang gampang olehmu daripada ayat Al-Quran.
Lantas ruku‘ dengan thuma’ninah, lantas bangkit hingga berdiri tegak (i‘tidal), lantas sujud dengan tuma’ninah, lantas bangkitlah daripadanya dengan thuma’ninah, serta kerjakanlah yang demikian itu dalam tiap-tiap sembahyangmu ". (Hadis cerita Al-Bukhari)
-Dari Malik bin Huwairits, bahwasannya ia saksikan nabi saw. Shalat, yakni bila berada di (rakaat yang) ganjil daripada shalatnya, tidak bangun (berdiri) hingga ia duduk dengan tetaplah. Diriwayatkan oleh Bukhari (Bulughul Maram : 323)
Kaifiyat atau langkah duduk pada dua sujud
-Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw. Yakni bila duduk tasyahud ia tempatkan tangannya yang kiri atas lututnya yang kiri, serta yang kanan atas yang kanan, dan ia menggenggamlima puluh tiga dan ia isyaratkan dengan jari telunjuk. Diriwayatkan dia oleh Muslim (Bulughul Maram : 332)
-Dari Aisyah. Ia berkata : Rasulullah saw. Mulai shalat dengan takbir dan (memulai) bacaan dengan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin …”, apabila ia ruku’ tidak ia dongakkan kepalanya, dan tidak ia tundukkannya, tetapi diantara itu, dan bila bangkit dari ruku’, tidak ia sujud hingga berdiri tegak benar-benar, dan bila ia angkat kepalanya dari sujud, tidak ia sujud (sekali lagi) hingga duduk betul-betul, dan ia membaca Attahiyat ditiap-tiap dua rakaat, serta yakni ia bentangkan kaki kirinya dan membuat yang kanan ; dan yaitu ia melarang seseorang membentangkan dua lengannya (di bumi) jadi bentangan binatang buas, dan yakni ia menyudahi shalatnya dengan salam.
Dikeluarkan dia oleh Muslim, tetapi ada baginya ’ Illat (Bulughul Maram : 448)


-Punggung didudukkan di atas tapak kaki kiri, selain itu dibangun tapak kaki kanan dengan melipatkan anak-anak jari kaki kanan menghala ke kiblat. Berikut kaifiyat duduk pada dua sujud yang ditangani oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang diceritakan oleh Abu Humaid As-Sa‘idiy yang miliki maksud :
" Telah berkata Abu Humaid As-Sa‘idiy : " Saya yakni orang yang paling hafal (tahu) akan shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya saksikan waktu Baginda bertakbir, Baginda mengangkatkan tangan Baginda sejajar dengan dua bahunya. Bila ruku‘, Baginda tempatkan ke-2 tangannya pada ke-2 lutut. Lantas Baginda membungkukkan punggung. Bila Baginda mengangkat kepala (dari ruku‘) Baginda tegak hingga masing-masing tulang belakangnya kembali pada tempatnya. Bila sujud Baginda letakkan ke-2 tangan Baginda dengan tidak mencengkam serta tidak juga menggenggam, dan Baginda hadapkan hujung jari-jari Baginda ke arah kiblat. Bila Baginda duduk pada raka‘at ke dua, Baginda duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Bila Baginda duduk pada raka‘at akhir jadi Baginda julurkan kaki kiri dan ditegakkannya kaki kanan serta Baginda duduk di atas tempat duduk Baginda (tikarnya) ".
Hadis cerita Al-Bukhari (Bulughul Maram : 284)
-Dari Maimunnah ra., isteri Nabi saw, katanya : Bila Rasulullah saw sujud, direnggangkannya ke-2 sikunya dari rusukny, sampai tampak putih ketiaknya. Dan Bila duduk pada dua sujud dan pada tasyahud awal, beliau duduk tenang diatas pahanya yang kiri. (Shahih Muslim Hadist : 448)
Langkah duduk yang diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu duduk iq‘a iaitu dengan punggung didudukkan di atas kedua-dua tapak kaki serta tumit, seperti yang diterangkan dalam cerita Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma :
Maksudnya :
" Abu Zubair mendengar daripada Thawus mengemukakan : " Kami kemukakan pertanyaan pada Ibnu ‘Abbas mengenai duduk (lewat cara iq‘a) di atas dua kaki. Ibnu ‘Abbas menjawab : " Itu yakni sunnat ". Lalu kami berkata kepadanya : " Kami saksikan (langkah duduk demikian) menyusahkan orang itu ". Ibnu abbas menjawab : " Tersebut sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ".
(Hadis cerita Muslim) (Shahih Muslim Hadist : 491)
-Cara duduk menurut cerita daripada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhum yaitu dengan duduk di atas dua tumit serta jari kaki, yakni termasuk juga duduk pada dua sujud. (Al-Majmuk : 3/399) Perkara ini diterangkan dalam satu cerita daripada Az-Zubair yang maksudnya :
" Sebenarnya dia (Az-Zubair) saksikan ‘Abdullah bin ‘Umar bila sujud, lantas beliau mengangkat kepalanya daripada sujud yang pertama (lalu) duduk di atas jari-jari kakinya dan beliau berkata : " Sesungguhnya (duduk begini) yakni sunnah ". (Cerita Al-Baihaqi)
-Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubra (2/464) menjelaskan bahawa duduk iq‘a semisal ini yakni disunatkan seperti yang diriwayatkan pada kami daripada Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar Radiallahu ‘anhum. Beliau setelah itu menerangkan langkah duduk itu iaitu yang punya maksud : " (Langkah duduk itu) yaitu meletakkan jari-jari kaki di atas bumi dan meletakkan punggung di atas dua tumit serta meletakkan lutut di atas bumi "
-Menjadikan ke-2 punggungnya atas tumitnya waktu kerjakan duduk di antara dua sujud. Berikut langkah duduk yang disunatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Duduk di dalam sembahyang itu ada empat iaitu
1. Duduk pada dua sujud,
2. Duduk tasyahhud awwal,
3. Duduk istirahat (duduk saat sebelum bangkit/berdiri untuk raka‘at setelah itu), dan
4. Duduk tasyahhud akhir.
Sekian perihal untuk orang yang masbuq, sunat duduk dengan iftirash. Menurut Imam An-Nawawi, apabila ditangani kesemua duduk dalam sembahyang dan menjadikan kaki-kakinya itu lewat cara duduk iftirash, iq‘a atau tawarruk tidak akan membatalkan sembahyang walau duduk itu tidak sama. (Shahih Muslim Syarh An-Nawawi : 2/133-134)
Dari hadist-hadist yang di uraikan diatas bias di ambil rangkuman bila :
- Duduk iftirash yakni untuk duduk yg tidak disudahi dengan salam (waktu tahiyyat awal.
- Duduk tawarruk yakni ditangani untuk duduk yang disudahi dengan salam (waktu tahiyyat akhir).
- Duduk yang beda disunnahkan yakni duduk Iq’a (ketka duduk diantara dua sujud & duduk istirahat)
“Dan siapapun yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan ikuti jalan yang tidaklah jalan sebagian orang mukmin, Kami biarlah ia leluasa pada kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami input ia dalam Jahanam, serta Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali (QS An-Nisa : 115)
“Hai sebagian orang yang beriman, patuhilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara anda. Lantas apabila anda berlainan pendapat tentang satu hal, jadi kembalikanlah ia pada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), apabila anda betul-betul beriman pada Allah serta hari kemarin. Yang demikian itu lebih

Kewajiban thuma’ninah waktu ruku‘, sujud, i‘tidal (bangkit daripada ruku‘) dan duduk pada 2 sujud, berdasarkan pada hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang punya maksud :
" Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : " Bila engkau berdiri untuk menunaikan sembahyang baiknya bertakbir, lantas bacalah yang gampang olehmu daripada ayat Al-Quran.
Lantas ruku‘ dengan thuma’ninah, lantas bangkit hingga berdiri tegak (i‘tidal), lantas sujud dengan tuma’ninah, lantas bangkitlah daripadanya dengan thuma’ninah, serta kerjakanlah yang demikian itu dalam tiap-tiap sembahyangmu ". (Hadis cerita Al-Bukhari)
-Dari Malik bin Huwairits, bahwasannya ia saksikan nabi saw. Shalat, yakni bila berada di (rakaat yang) ganjil daripada shalatnya, tidak bangun (berdiri) hingga ia duduk dengan tetaplah. Diriwayatkan oleh Bukhari (Bulughul Maram : 323)
Kaifiyat atau langkah duduk pada dua sujud
-Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw. Yakni bila duduk tasyahud ia tempatkan tangannya yang kiri atas lututnya yang kiri, serta yang kanan atas yang kanan, dan ia menggenggamlima puluh tiga dan ia isyaratkan dengan jari telunjuk. Diriwayatkan dia oleh Muslim (Bulughul Maram : 332)
-Dari Aisyah. Ia berkata : Rasulullah saw. Mulai shalat dengan takbir dan (memulai) bacaan dengan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin …”, apabila ia ruku’ tidak ia dongakkan kepalanya, dan tidak ia tundukkannya, tetapi diantara itu, dan bila bangkit dari ruku’, tidak ia sujud hingga berdiri tegak benar-benar, dan bila ia angkat kepalanya dari sujud, tidak ia sujud (sekali lagi) hingga duduk betul-betul, dan ia membaca Attahiyat ditiap-tiap dua rakaat, serta yakni ia bentangkan kaki kirinya dan membuat yang kanan ; dan yaitu ia melarang seseorang membentangkan dua lengannya (di bumi) jadi bentangan binatang buas, dan yakni ia menyudahi shalatnya dengan salam.
Dikeluarkan dia oleh Muslim, tetapi ada baginya ’ Illat (Bulughul Maram : 448)


-Punggung didudukkan di atas tapak kaki kiri, selain itu dibangun tapak kaki kanan dengan melipatkan anak-anak jari kaki kanan menghala ke kiblat. Berikut kaifiyat duduk pada dua sujud yang ditangani oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang diceritakan oleh Abu Humaid As-Sa‘idiy yang miliki maksud :
" Telah berkata Abu Humaid As-Sa‘idiy : " Saya yakni orang yang paling hafal (tahu) akan shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya saksikan waktu Baginda bertakbir, Baginda mengangkatkan tangan Baginda sejajar dengan dua bahunya. Bila ruku‘, Baginda tempatkan ke-2 tangannya pada ke-2 lutut. Lantas Baginda membungkukkan punggung. Bila Baginda mengangkat kepala (dari ruku‘) Baginda tegak hingga masing-masing tulang belakangnya kembali pada tempatnya. Bila sujud Baginda letakkan ke-2 tangan Baginda dengan tidak mencengkam serta tidak juga menggenggam, dan Baginda hadapkan hujung jari-jari Baginda ke arah kiblat. Bila Baginda duduk pada raka‘at ke dua, Baginda duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Bila Baginda duduk pada raka‘at akhir jadi Baginda julurkan kaki kiri dan ditegakkannya kaki kanan serta Baginda duduk di atas tempat duduk Baginda (tikarnya) ".
Hadis cerita Al-Bukhari (Bulughul Maram : 284)
-Dari Maimunnah ra., isteri Nabi saw, katanya : Bila Rasulullah saw sujud, direnggangkannya ke-2 sikunya dari rusukny, sampai tampak putih ketiaknya. Dan Bila duduk pada dua sujud dan pada tasyahud awal, beliau duduk tenang diatas pahanya yang kiri. (Shahih Muslim Hadist : 448)
Langkah duduk yang diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu duduk iq‘a iaitu dengan punggung didudukkan di atas kedua-dua tapak kaki serta tumit, seperti yang diterangkan dalam cerita Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma :
Maksudnya :
" Abu Zubair mendengar daripada Thawus mengemukakan : " Kami kemukakan pertanyaan pada Ibnu ‘Abbas mengenai duduk (lewat cara iq‘a) di atas dua kaki. Ibnu ‘Abbas menjawab : " Itu yakni sunnat ". Lalu kami berkata kepadanya : " Kami saksikan (langkah duduk demikian) menyusahkan orang itu ". Ibnu abbas menjawab : " Tersebut sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ".
(Hadis cerita Muslim) (Shahih Muslim Hadist : 491)
-Cara duduk menurut cerita daripada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhum yaitu dengan duduk di atas dua tumit serta jari kaki, yakni termasuk juga duduk pada dua sujud. (Al-Majmuk : 3/399) Perkara ini diterangkan dalam satu cerita daripada Az-Zubair yang maksudnya :
" Sebenarnya dia (Az-Zubair) saksikan ‘Abdullah bin ‘Umar bila sujud, lantas beliau mengangkat kepalanya daripada sujud yang pertama (lalu) duduk di atas jari-jari kakinya dan beliau berkata : " Sesungguhnya (duduk begini) yakni sunnah ". (Cerita Al-Baihaqi)
-Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubra (2/464) menjelaskan bahawa duduk iq‘a semisal ini yakni disunatkan seperti yang diriwayatkan pada kami daripada Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar Radiallahu ‘anhum. Beliau setelah itu menerangkan langkah duduk itu iaitu yang punya maksud : " (Langkah duduk itu) yaitu meletakkan jari-jari kaki di atas bumi dan meletakkan punggung di atas dua tumit serta meletakkan lutut di atas bumi "
-Menjadikan ke-2 punggungnya atas tumitnya waktu kerjakan duduk di antara dua sujud. Berikut langkah duduk yang disunatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Duduk di dalam sembahyang itu ada empat iaitu
1. Duduk pada dua sujud,
2. Duduk tasyahhud awwal,
3. Duduk istirahat (duduk saat sebelum bangkit/berdiri untuk raka‘at setelah itu), dan
4. Duduk tasyahhud akhir.
Sekian perihal untuk orang yang masbuq, sunat duduk dengan iftirash. Menurut Imam An-Nawawi, apabila ditangani kesemua duduk dalam sembahyang dan menjadikan kaki-kakinya itu lewat cara duduk iftirash, iq‘a atau tawarruk tidak akan membatalkan sembahyang walau duduk itu tidak sama. (Shahih Muslim Syarh An-Nawawi : 2/133-134)
Dari hadist-hadist yang di uraikan diatas bias di ambil rangkuman bila :
- Duduk iftirash yakni untuk duduk yg tidak disudahi dengan salam (waktu tahiyyat awal.
- Duduk tawarruk yakni ditangani untuk duduk yang disudahi dengan salam (waktu tahiyyat akhir).
- Duduk yang beda disunnahkan yakni duduk Iq’a (ketka duduk diantara dua sujud & duduk istirahat)
“Dan siapapun yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan ikuti jalan yang tidaklah jalan sebagian orang mukmin, Kami biarlah ia leluasa pada kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami input ia dalam Jahanam, serta Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali (QS An-Nisa : 115)
“Hai sebagian orang yang beriman, patuhilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara anda. Lantas apabila anda berlainan pendapat tentang satu hal, jadi kembalikanlah ia pada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), apabila anda betul-betul beriman pada Allah serta hari kemarin. Yang demikian itu lebih
Mohon Dibagikan Bagi Yang Muslim.....!!! Jangan Salah Inilah Kesilapan Duduk Pada Dua Sujud/Duduk Iftirasy Yang Ramai Ambillah Gampang. Mohon Kongsikan Cara Yang Benar Ini...
Reviewed by siska
on
August 22, 2017
Rating:
Reviewed by siska
on
August 22, 2017
Rating: